Dialita: Sebuah Sendu yang Hadir dari Masa Lalu

 “Dari balik jeruji besi
Hatiku diuji
Apa aku emas sejati
Atau imitasi”
Ujian, Dialita (2016)

[PADUAN SUARA DIALITA] Sejarah dan tragedi tidak melulu hanya diabadikan melalui narasi. Lagu bisa juga menjadi medium ekspresi ingatan manusia terhadap peristiwa masa lalu yang dialami dan disaksikannya. Perasaan emosi entah itu riang, pahit, getir, ironi dapat tersampaikan melalui lirik yang dinyayikan beserta nada yang mengiringi. Begitulah yang tergambar setelah mendengarkan Dialita –Di Atas Lima Puluh Tahun, sebuah kelompok paduan suara yang beranggotakan para wanita eks tahanan politik maupun anggota keluarga korban Tragedi 1965. Sepuluh lagu yang dinyanyikan dalam album Dunia Milik Kita menjadi sebuah kesaksian akan sebuah nasib pahit  yang terjadi atas diri mereka yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Dialita ditemani oleh generasi muda yang mengaransemen dan menjadi pengiring dalam album ini. Mereka para generasi muda itu antara lain Frau, Cholil Mahmud, Sisir Tanah, Lintang Radittya, Kroncongan Agawe Santosa, Nadya Hatta, dan Prihatmoko Moki.

Perjumpaan pertama saya dengan Dialita ketika saya mengikuti diskusi dan peluncuran buku Memoar Pulau Buru karya Hersri Setiawan di Fisipol UGM pada 11 Maret 2016. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Departemen Sosiologi UGM dan Penerbit KPG tersebut Dialita bersama Sisir Tanah menjadi pengisi acara tersebut. Sebuah perpaduan yang pas mengingat Hersri (eks Ketua Lekra cabang Jogjakarta) notabene juga korban kebiadaban rezim yang sama, dipenjara tanpa pengadilan hingga Pulau Buru dan terus terbungkam selama Orde Baru berkuasa. Pada kesempatan itu Dialita membawakan lagu Salam Harapan dan Viva GANEFO, lagu yang seketika itu juga membuat saya tersentak, mendengarkan suara-suara (dan lagu) yang dulu dibungkam dapat kembali ditembangkan dengan lantang. Saya kagum dengan semangat ibu-ibu yang mayoritas sudah berusia lanjut, bahkan beberapa perlu dipapah saat akan berdiri dalam barisan paduan suara. Terlebih lagu Viva GANEFO yang begitu bersemangat, dengan keras menggelorakan jiwa zaman ketika itu. Suatu masa dimana Sukarno, sang singa podium itu sebagai pemimpin bangsa menyerukan untuk bangsa-bangsa “Dunia Ketiga,” bangsa-bangsa yang dulu terjajah untuk bangkit melawan dominasi dan hagemoni Barat. Namun ketika itu saya tidak terlalu ngeh dengan kelompok paduan suara ini karena saya pikir hanya sebatas paduan suara biasa. Hingga akhirnya pada 17 Agustus 2016 lalu, tepat pada ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-71 saya membaca di linimasa Facebook bahwasanya Dialita merilis sebuah album.

album_art_yesno083
Kover album Dunia Milik Kita. Album ini boleh disebarluaskan, asalkan tidak untuk kepentingan komersial dan harus menyertakan sumber.

Album ini disebarluaskan melalui Internet dan dapat dengan gratis diunduh di situs yesnowave.com. Diproduksi dan dipublikasikan oleh Yes No Wave Music dan bekerjasama dengan Indonesian Visual Art Archive (IVAA).  Sebuah pengantar sekaligus keterangan mengenai tiap lagu dituliskan secara bagus oleh Arman Dhani. Membaca apa yang dituliskan Dhani, saya yang cukup intens mendalami mengenai Tragedi ’65 menemukan nama-nama yang tidak asing lagi yang ternyata menjadi penggubah maupun penyanyi awal dari lagu-lagu dalam album ini. Sebut saja Sudharnoto, Koesalah Soebagyo Toer, Heryani Busono Wiwoho, Putu Oka Sukanta, dan Mia Bustam. Saya sepakat dengan Dhani yang menyatakan bahwa album ini juga merupakan arsip sejarah. Dunia Milik Kita menyimpan berbagai catatan penting pada masa-masa paling kelam dalam lembaran sejarah Indonesia.

Dalam album perdana ini Dialita bukan ingin merengek-rengek minta belas kasihan siapapun. Dalam pandangan saya, Dialita ingin menghadirkan pesan bagaimana mereka masih terus mempunyai harapan di masa depan, sekalipun kegetiran melanda mereka puluhan tahun lamanya. Lagu Salam Harapan, Lagu Untuk Anakku, Kupandang Langit, dan Dunia Milik Kita menjadi sebuah pertanda semangat hidup itu masih terus ada. Sedangkan pada lagu Ujian dan Taman Bunga Plantungan menjadi sebuah ‘memoar’ apa yang mereka rasakan selama menjadi pesakitan, diharam-jadahkan oleh rezim dan penguasa bengis bernama Orde Baru.

Selain sebagai sebuah kesaksian, Dialita juga membawakan lagu-lagu yang menjadi jiwa zaman Indonesia sebelum 1965. Periode pasca kemerdekaan hingga paruh pertama dasarwasa 1960an. Lagu berjudul Padi untuk India menceritakan bagaimana Indonesia, sebuah negara yang baru saja merdeka memberi bantuan beras untuk India pada 1946. Berikutnya Asia Afrika Bersatu dan Viva GANEFO  yang menjadi penyemangat bagi dua perhelatan akbar yang membuat nama Indonesia harum di tengah-tengah pergaulan negara dan bangsa Asia, Afrika, Amerika Latin yang sedang mengahalau (neo)kolonialisme-imperialisme. Konferensia Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung diabadikan oleh Sudharnoto, seorang seniman Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat) melalui sebuah lagu yang menggugah semangat. Demikian pula Games of the New Emerging Forces (Ganefo) 1963 di Jakarta, sebuah perhelatan olahraga multicabang yang diadakan  untuk menandingi hagemoni Olimpiade. Menariknya Viva GANEFO  yang digubah oleh Asmono Martodipoero ini ditulis dalam lirik berbahasa Spanyol. Berikutnya Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu mengambil latar belakang para petani yang berjuang setelah diberlakukannya Undang Undang Pokok Agraria pada 1960. Berbagai peristiwa penting dalam arus sejarah negeri ini tergambar dengan merdu melalui paduan suara ini.

Daftar Lagu Dialita
Daftar sepuluh lagu dalam album Dunia Milik Kita.

Suatu hal yang menggembirakan untuk saya pribadi ketika mendengarkan lagu yang berangkat dari kenyataan sosial. Terlebih datang dari suara-suara penyintas yang disakiti oleh sesama bangsanya sendiri. Mereka memberikan teladan bagi kita untuk tetap tegar, bertahan ditengah deru siksaan, hujatan, dan stigma yang menimpa mereka puluhan tahun lamanya. Pada akhirnya, terima kasih kepada para ibu Dialita, juga semua yang sudah berperan menyuarakan kembali apa yang seharusnya kita dengar; suara-suara yang menjadi tanda bahwa ada persoalan besar yang belum tuntas di negeri ini hingga kini: kemanusiaan! Keadilan untuk mereka, siapapun itu yang pernah diperlakukan biadab oleh negara dan penguasa.

 

Willy Alfarius (Ilmu Sejarah UGM 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s